Stella Runtuwene (Foto :Istimewa)

SULUT, INC – Wakil ketua komisi III DPRD Sulut Stella Runtuwene ikut mengkritisi soal legalitas pemberian nama RSUD yang terletak di jalan Bethesda Manado dan Rumah Sakit Khusus Mata yang berada di Kelurahan Bumi Nyiur Manado.

Dikatakannya anggaran pembangunan dua rumah sakit tersebut dibiayai melalui pinjaman daerah ke PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI) memiliki nilai yang tidak sedikit.

” RS mata juga pake nama ODSK padahal pake uang rakyat dan rakyat yang harus tanggung selama 5 tahun kedepan pinjaman 100 M untuk bangun,
Ini nama kan sudah melekat di pemerintahan sekarang,” ungkap Politisi NasDem saat dikonfirmasi Minggu (25/4/) melalui nomor WhatsApp.

Hal ini menurut dia penting disampaikan ke publik agar masyarakat dapat mengetahui bahwa anggaran pembangunan dua buah rumah sakit dengan total pinjaman Rp.400 miliar harus dikembalikan lagi ke PT.SMI.

Legislator Dapil Minsel Mitra ini juga merinci anggaran sebesar 300 milyar pembangunan RSUD lewat PT SMI melalui perjanjian pinjaman 17 Oktober 2018 dengan nilai obligasi/jumlah pinjaman sebesar Rp.300 milyar serta jangka waktu pinjaman 5 thn disertai prosentasi bunga 7,89 persen.

Sementara untuk RS Khusus Mata Sulawesi Utara lewat sumber dana pinjaman yang sama dengan perjanjian pinjaman 12 Februari 2019 sebesar Rp.100 miliar, jangka waktu pengembalian 5 tahun serta prosentase bunga 8.53 persen.

” Yang perlu dipertanyakan disini, kenapa harus pake nama ODSK karena nama tersebut sudah sangat melekat pada pemerintahan saat ini kalau kepanjangannya kita nda tahu.”

” Jangan seolah – olah milik pasangan yang terpilih yaitu pemerintahan saat ini bahkan terkesan milik dari pribadi. Masyarakat harus tau itu adalah uang masyarakat yang sampe sekarang kita masih bayar hutang. Tidak eloklah kita memakai nama itu seolah-olah bangun dengan uang pribadi” tandas Stella.

Ia bahkan mengusulkan sebaiknya pemberian nama kedua rumah sakit tersebut diambil dari para pejuang kesehatan yang banyak memberi diri untuk masyarakat Sulut atau nama pahlawan asal Sulawesi Utara.

Disisi lain ia menghawatirkan dengan nilai pinjaman serta beban bunga sebesar itu justru akan membebani rumah sakit pada akhirnya berimbas pada masyarakat.

” Yang perlu ditekankan disini bahwa kita masih ngutang, masyarakat musti bayar sampai beberapa tahun kedepan. Saya ngomong berdasarkan data-data karena data ini juga dari mereka dari buku yang dibagikan,” tegasnya.

Selain itu ia menilai penempatan RSUD di kota Manado kurang tepat karena fasilitas rumah sakit di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara sudah banyak tersedia.

” Kenapa RSUD yang ada sekarang tidak di bangun di daerah Bolmong Raya yang menurut saya disana masih kurang fasilitas RS-nya, sehingga banyak yang harus berobat ke pusat kota Manado. Harusnya ada pemerataan karena kalau kita hitung fasilitas kesehatan di pusat kota ada belasan rumah sakit yang tersedia disini.” pungkas Stella.

(**)