Polda Sulut jangan menggunakan kaca mata kuda dalam penanganan kasus audiens

Inewscrime – Bolmong – Penyidik Polda Sulut jangan menggunakan kaca mata kuda dalam penanganan kasus audens pemkab bolmong.

“Penyidik Polda Sulut harusnya segera menetapkan tersangka terhadap SBM alias Salihi, YRT alias Yanni, UP alias Ulfa dan DjD alias Djek, dan tim verifikasi kegiatan audiens tersebut”

“Kewajiban tim verifikasi harus melakukan tahapan sebelum proses sp2d (surat perintah pencairan dana), namun dalam fakta persidangan saksi-saksi yang juga adalah anggota tim verifikasi, mengaku bekerja di bawah tekanan dan tidak melihat wujud barang” kata Jakin Paputungan, aktifis anti korupsi

“Penyidik Polda bisa menjadikan bukti tanggal dokumen sp2d dan RC Bank, antara pengajuan dan pencairan dana audiens” lanjut Jakin “penyidik harus juga memanggil Kabid anggaran, Kabid perbendaharaan, kabid akuntansi dan tim verifikasi”

Terkait benar atau tidak tekanan kepada tim verifikasi, yang disampaikan saksi pada saat sidang,¬†Semestinya SBM alias Salihi, YRT alias Yanni, yang pada saat itu menjabat bupati dan Wakil bupati selaku penerima dana, UP alias Ulfa, (pada saat menjabat asisten III) selaku pengguna anggaran dan DjD alias Djek, (pada saat itu menjabat asisten II) yang turut mendorong pencairan dana tersebt, segera ditetapkan sebagai tersangka, apa yang mereka lakukan jelas telah mengangkangi Undang-Undang no. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara”

“Jika kasus audiens ini terungkap, maka ini merupakan pintu masuk untuk mengungkap kasus dugaan korupsi pada tahun 2013 dimana Pemkab Bolmong mencairkan dana 12 milyar di beberapa SKPD yang belum tertata di APBD dengan modus menggunakan surat penyediaan dana tahun 2012” kata Jakin

(Didi)