Legislator Partai Golkar di Deprov Sulut Yongki Limen
MANADO – Cuaca ekstrim yang terjadi beberapa minggu terakhir yang me gakibatkan  bencana  banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah di Manado jadi perhatian serius legislator partai Golkar di Deprov Sulut Yongki Limen.
Menurutnya persoalan banjir dikota Manado tak kunjung terselesaikan karena kelemahan dari Pemkot Manado sendiri.  Dirinya mengatakan persoalan banjir di Kota Manado bukan hanya sekarang tapi sudah menjadi warisan di mana dalam kurun waktu 15 tahun terakhir terjadi beberapa kali bencana banjir dan tanah longsor bahkan yang paling parah di awal tahun 2014 terjadi banjir bandang di kota Manado. Tapi anehnya Pemkot Manaado sepertinya tidak berkaca dari peristiwa masa lalu tersebut.   bahkan menurutnya  dibawah kepemimpinan Walikota Manado GSV Lumentut yang sudah memasuki dua periode terkesan tak mampu menyelesaikannya.
Contoh paling gres Beberapa waktu lalu, Kota Manado kembali dilanda banjir dibeberapa kelurahan yang menjadi daerah langganan banjir seperti Tuminting, Sario, Taas, Banjer, Tumumpa, Paal 2, Dendengan Luar, Ternate Tanjung, Ternate Baru, dan Ketang Baru. Selain itu, longsor terjadi dibeberapa kelurahan dikota Manado, yaitu di Kelurahan Pakowa, Dendengan Dalam, Bumi Nyiur, Kampung Islam, dan Paal 4. Akibat bencana tersebut, lima orang meninggal dunia. Adapun longsor yang terjadi di Paal 4 pada Kamis, 15 Desember, pukul 23.00 Wita, menimbun dua warga, yaitu seorang bapak dan anaknya.
Saat di mintai keterangannya Yongki Limen menyesalkan ketidak sigapan dan dari pemerintah kota Manado dalam mengantisipasi banjir malah terkesan terjadi pembiaran di daerah-daerah rawan banjir tersebut.
“Kasihan warga, kejadian seperti ini telah berulang dari tahun ke tahun namun Pemkot Manado seperti kehabisan akal, ” membawa bantuan kelokasi banjir bukanlah solusi panggil semua instansi terkait beserta warga rundingkan bersama jalan keluarnya pula secara bersama sama supaya dapat solusi yang menguntungkan semua pihak, ” tukasnya.
Lanjut dikatakan oleh Limen, daerah rawan banjir tersebut secara tidak langsung telah dikumuhkanoleh pemerintah Kota karena tidak ada sikap realistis dari pemerintah kota untuk menyelesaikannya.
“Terakhir saat memantau langsung para korban banjir yang ada di Kampung Tubir, Kecamatan Paal II, Lingkungan II. Keterangan Kepala Lingkungag II, Marlon Sumaranda, kurang lebih 35 rumah yang ada di Kampung Tubir semuanya terendam banjir. Dari 35 rumah tersebut kurang lebih ada 350 jiwa atau 175 Kepala Keluarga dengan ketinggian air saat ini satu meter, ” miris saya melhatnya, “pungkas Yongki sambil menyeka kacamatanya.
Sementara itu Walikota Manado Vicky Lumentut saat di wawancarai oleh media saat silaturrahmi dalam rangka Imlek di kediaman pemilik kawasan Mega Mas Benny Tungka saat perayaan Tahun baru China dirinya mengatakan penanganan banjir tidak bisa cepat tapi harus pelan pelan. Apalagi dalam hal relokasi warga, Butuh pendekatan persuasiv karena belum tentu warganya mau direlokasi kampung Tubir Paal 2 misalnya, “sudah sejak dulu warga disana lalu hendak di relokasi oleh Pemkot Manado tapi warganya sendiri yang tidak mau yang pasti pemerintah akan berupaya sebisa munkin agar mereka mau direlokasi,” pungkas Walikota yang saat ini menjabat Walikota Manado di periode kedua. (Bob)