Rocky Wowor, Ketua Pansus LKPJ Gubernur Tahun 2020. (Foto Istimewa)

SULUT, INC — Pansus LKPJ Gubernur 2020 yang dipimpin politisi PDI Perjuangan Rocky Wowor mengadakan RDP bersama Bank SulutGo dibawah pimpinan Revino Pepah sebagai Direktur Utama yang baru.

Polemik kredit macet di Bank Sulutgo menjadi perhatian perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Kondisi ini pun dipertanyakan oleh wakil rakyat di gedung cengkih.

Hal ini disampaikan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Sulut Tahun 2020, Rocky Wowor. Dirinya mempertanyakan, permasalahan Kredit Non Performing Loan (KNPL) di Bank Sulutgo yang bermasalah terdiri dari pihak mana saja.

“Terkait permasalahan KNPL, kalau boleh tau yang bermasalah itu perusahan-perusahan besar atau perusahan-perusahan kecil atau juga orang per orang. Apakah karena persoalan Covid-19,” kata Wowor dalam pelaksanaan LKPJ Gubernur Sulut Tahun 2020, Selasa (20/4), di ruang paripurna DPRD Sulut.

Merespons hal tersebut, Direktur Utama Bank Sulutgo, Revino Pepah mengatakan permasalahan KNPL salah faktornya adalah dampak dari Covid-19.

“Covid-19 berpengaruh kepada beberapa debitur karena kita (Bank Sulutgo, red) juga leading ada di beberapa debitur yang bergerak di sektor pariwisata yaitu perhotelan. Nah, itu cukup berpengaruh buat mereka namun ada juga di beberapa debitur yang mengalami kesulitan atau mengandung resiko bisnis,” kata Pepah.

Ia menuturkan, untuk debitur-debitur yang berdampak Covid-19, pihak Bank Sulutgo sudah coba melakukan restrukturisasi.

“Restrukturisasi kita sudah lakukan namun ketentuan restrukturisasi itu kan, kalau kolektibilitas itu sudah turun di kolektibilitas lima pada saat kita sudah melakukan restrukturisasi, tidak otomatis menjadi lancar masuk kolektibilitas empat dan seterusnya,” ungkapnya.

Ia menuturkan, kolektibilitas kredit ada lima yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet.

“Nah, apabila kita melakukan restrukturisasi maka kolektibilitas itu secara sekaligus membaik, dia langsung ke satu, dia bertahap dan berurut sehingga Non Performing Loan (NPL) itu bisa muncul. NPL ini adalah kolektibilitas sampai lima. Jadi walaupun kita sudah melakukan restrukturisasi, dia masih bertengger di NPL,” tuturnya.

“Selain itu ada juga debitur yang berkorporasi yang mengalami resiko bisnis sehingga ini kami akan berupaya untuk melakukan penagihan secara terus menerus, bahkan sampai pada eksekusi. Jadi ini memang merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi kita untuk menyelesaikan di tahun 2021 NPL ini. Jadi kita komitmen di situ,” tandasnya.

(**/Robby)