Beranda » Post » Marhani Pua : Pemuda GMIM Jangan Tergilas Zaman, Harus “Kreatif Dan Inovatif”

Marhani Pua : Pemuda GMIM Jangan Tergilas Zaman, Harus “Kreatif Dan Inovatif”

Manado, iNewscrime- Mungkin tak pernah terbayangkan dalam benak kita bahwa dunia menjadi semakin canggih seperti sekarang ini. Pergeseran nilai nilai kehidupan pun tidak bisa terhindarkan, secara tidak langsung nilai nilai kehidupan itu terus tergerus oleh canggih nya tekhnologi.

Anggota DPD RI IR Marhani Pua yang juga mantan Penatua Pemuda GMIM tak menampik kalau hal yang di sebut di atas juga mempengaruhi pelayanan pemuda khusus nya Pemuda GMIM. Menurut Nya Pemuda GMIM harus berani keluar dari Zona nyaman dan mau menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan prinsip prinsip dasar terlebih dogma gereja kita, “ujar nya via WhatsApp.

Menurut Nya Pemuda GMIM harus lebih kreatif  karena dengan semakin berkembang nya ekonomi,  pemuda di tuntut tidak hanya kreatif bahkan lebih dari kreatif pemuda GMIM harus Inovatif,” tukas Nya.

Dalam hal persekutuan pun para pemimpin pemuda di gereja harus lebih kreatif untuk mencari inovasi baru dalam pelayanan.

” Tuntutan per ekonomian sekarang mengharuskan banyak pemuda GMIM masih ditempat mereka bekerja pada jam jam ibadah, bahkan pada hari minggu sekalipun, tukas Pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Politeknik ini.

Menurut Nya ini realita yang tidak bisa di hindari.  Disisi lain pelayanan harus tetap jalan di sisi lain pula kebutuhan ekonomi juga tak bisa terbantahkan. Tak ada kata lain harus ada inovasi untuk. bisa menjangkau pemuda pemuda seperti itu. Kondisi seperti itu pun juga terjadi di kategorial lain seperti Bapak dan Ibu.

Menurut Anggota DPD tiga periode ini solusi yang bisa di lakukan adalah membuat ibadah kreatif di jemaat. Tak bisa di pungkiri kepenatan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi tak jarang membuat orang menomor duakan pelayanan.” perlu di formulasikan pola ibadah kreatif yang mampu membangun iman jemaat tanpa harus meninggalkan dogma gereja kita dan di sisi lain tidak menghambat pemuda maupun jemaat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka,” jelas Nya.

Di bagian akhir keterangan nya “Kak Hani”  sapaan akrab Nya mengatakan perlu ada kedewasaan iman dari kategorial lain khusus nya Bapak dan Ibu menyikapi ibadah kreatif ini agar tidak tercipta gap terkait hal tersebut. Badan Pekerja Majelis Sinode pun harus mampu menjembatani ini. Dalam waktu dekat ini kami akan adakan FGD (Focus Group Discussion) membahas hal ini, “ini menarik untuk di bahas serta di carikan solusi nya,” pungkas Nya.

(Robby Kumaat Mononimbar)