Klarifikasi Kapolres Sangihe Terkait Penahanan Seorang Ibu Dan Anak Di Polsek Manganitu

Kapolres Sangihe AKBP Tony Budhi Susetyo, SIK.

INEWSCRIME.COM — Kapolres Sangihe AKBP Tony Budhi Susetyo, SIK memberikan klarifikasi terkait dengan penahan seorang wanita yang berbuntut ikut sertanya bocah balita didalam sel bersama dengan wanita yang belakangan diketahui sebagai ibunya di wilayah hukum Polres Sangihe tepatnya di Polsek Manganitu yang sempat viral dimedsos beberapa hari terakhir ini.

dikatakan oleh Kapolres, Pada hari Senin tgl. 27 April 2020 telah dititipkan tahanan Polres atas nama/ FRANSISKE THEODORA NAGARING ke Polsek Manganitu atas kasus PETI (Penambangan Emas Tanpa Ijin) sesuai dengan pasal yang disangkakan yaitu pasal 158 UU RI No. 4 th 2009 jo pasal 55 ayat (1), pasal 56 ayat (2) KUHP.

Adapun status Ibu tersebut sudah kami tetapkan sebagai Tersangka karena ibu tersebut terbukti sebagai Pemilik lahan dan sengaja memberi kesempatan para penambang untuk beraktivitas,”kata Kapolres.

Lanjut menurut Kapolres, sebagai Kapolres dirinya sudah melakukan interogasi pada anggota piket jaga di Polsek atas dugaan info yg beredar di Medsos sampai kenapa bisa anak tersebut ada didalam sel.
” Yang bersangkutan kami titipkan ke Polsek karena kami tetap memperhatikan physical distancing dan sekarang masih dalam tahap proses sidik,”terang Kapolres.

Ditambahkan oleh Kapolres, Keterangan dari Piket bahwa mereka sudah melarang Ibu tersebut membawa anaknya ke dalam sel, tapi atas dasar kemanusiaan dan atas permintaan dari Ibu tersebut setelah selesai jam besuk, maka akhirnya diijinkan oleh anggota piket utk menemani Ibunya didalam Sel karena keterangan anggota piket tidak ada pilihan lain karena Ibu itu terus memohon, dan juga pada pagi hari anak tersebut dijemput oleh adik TSK Desi Mandiangan. Sebelum anak itu dijemput difoto dan di upload di medsos karena disuruh oleh seseorang dengan harapan kasus itu bisa ditangguhkan,”tambah Kapolres.

Disisi lain menurut Kapolres, Saya selaku Kapolres juga ada tekanan dari masyarakat pemerhati lingkungan, Tokoh masyarakat, LSM dan Stake Holder yg ada di Kab. Kepl. Sangihe utk melakukan penertiban PETI yg efeknya sangat merusak lingkungan. Kami sdh berkoordinasi dgn Forkopimda utk mencari solusi terhadap para penambang PETI melalui program dari Pemda untuk nantinya bisa bekerja kembali seperti profesinya sebelum ada aktivitas PETI melalui program Padat Karya dgn memberikan pelatihan, Jadi isu yg berkembang di Medsos bahwa Polres menahan Ibu dan anaknya yang msh berumur 2 tahun itu *TIDAK BENAR* karena tidak sesuai dengan fakta yg ada.,”tegas Kapolres Tony Budi Susetyo.

Di bagian akhir klarifikasinya, kami mengucapkan terima kasih yg sebesar besarnya kepada :

1. Ketua Nasional Perlindungan Perempuan & anak Ibu Jeni Claudia Lumowa (Bu Naomi) atas sarannya agar menyediakan ruang khusus utk Ibu dan anaknya saat jam besuk.

2. Bang Hotman Paris selaku Pengacara Senior yang sudah ikut serta memperhatikan kasus tersebut.

3. Forkopimda & Stake Holder Kab. Kepl. Sangihe yang mendukung kinerja Polres

4. Rekan rekan wartawan, LSM & tokoh masyarakat pemerhati lingkungan hidup yang sudah memberikan Support.

Demikian klarifikasi Saya Kapolres Kepl Sangihe AKBP. TONY BUDHI SUSETYO, SIK. (**/RKM)