DISKUSI BERSAMA FORWARD DANLANUDSRI KOLONEL (Pnb) ARIFAINI NUR DWIYANTO TEKANKAN PENTINGNYA IKON DAERAH AGAR PARIWISATA SULUT LEBIH MENDUNIA

Manado,Indonewscrime.Com- Siapa yang menyangka walaupun bukan seorang putra asli Sulawesi  Utara. Sososk bersahaja yang satu ini punya kepedulian akan potensi besar yang di miliki oleh Sulawesi Utara.

Sosok bersahaja tersebut adalah   Komandan Pangkalan Udara Sam Ratulangi (Danlanudsri), Letkol (Pnb) Arifaini Nur Dwiyanto. Komitmennya terhadap  terhadap Sulawesi Utara, tidak hanya sebatas tugas yang dipercayakan kepadanya dalam urusan keamanan di wilayah udara daerah nyiur melambai. Kepeduliannya dalam mengembangkan pariwisata Sulut agar dikenal dunia patut di acungi jempol, yang terbaru adalah keterlibatan TNI AU dalam penyelenggaraan Event Paralayang yang merupakan event internasional.  Dimana Event tersebut diprakarsai oleh TNI – AU dan Pemkot Manado. Yang walaupun sedikit di keluhkan olehnya karena kurangnya kepedulian dari beberapa Kepala Daerah di Sulawesi Utara.

Saat ditemui oleh Forum Wartawan Dewan Provinsi Sulawesi Utara  di ruang kerjanya, Jumat (7/4/2017), Letkol Arif mengutarakan walaupun baru 4 di Sulut dirinya sudah merasa seperti orang Sulut asli. Dalam bincang bincang ringan tersebut dirinya mengungkapkan betapa pentingnya sebuah ikon untuk keberadaan satu daerah. Menurutnya tidak adanya ikon khas Sulawesi Utara merupakan salah satu hal yang sedikit menghambat promosi pariwisata Sulawesi Utara serta tentunya pengembangan pariwisata Sulawesi Utara untuk lebih mendunia, “ungkapnya dalam diskusi pada sore itu.

“Sejak 4 bulan berada di Sulut, saya belum melihat ada ikon yang bisa dikenal khusus dari Sulut, seperti patung Singa yang ada di Singapura yang sudah dikenal mendunia. Dengan tidak adanya ikon khas Sulut berdampak pada masyarakat yang kurang punya jati diri, itu tantangan bagi saya untuk membantu wisata sulut.” kata Arif.

Lanjut di katakan oleh Kolonel Arif yang juga seorang penerbang pesawat jet yang pernah berada di belakang cockpit pesawat tempur Sukhoi ini, ” dirinya sudah sempat menyampaikan kepada salah satu pimpinan DPRD Sulut yang memiliki tempat wisata, untuk menghadirkan suatu bangunan monumental yang bisa menjadi ikon dari Sulut.

“Bukit Tetempangan yang dimiliki oleh pak Wenny Lumentut, viewnya 360 derajat kelihatan dari berbagai sisi. Saya sudah sampaikan ke beliau, akan terlihat keren jika ada bangunan monumental, yang tidak ada duanya di dunia dan menjadi suatu yang khas dikenal dari Sulut,” ujar Arif.

Lebih lanjut oleh calon Perwira yang selangkah lagi akan menyandang bintang di pundaknya,” selain belum adanya ikon pendukung pariwisata Sulut kesiapan instansi terkait dalam menyiapkan pemetaan tempat wisata juga belum mendukung.

“Selama saya mengunjungi beberapa tempat di dunia, ketika masuk ke hotel dan ingin jalan-jalan tinggal ambil ‘Maping’ saja dan langsung panggil taksi mengantarkannya. Sayangnya, disini (Sulut) belum punya, dan itu sudah pernah saya sampaikan ke Kadis Pariwisata Provinsi maupun Kota Manado,” ungkap Arif.

Satu hal yang menjadi penilaian positif olehnya adalah terkait kultur budaya masyarakat  Sulut di mana toleransi antar umat beragama yang terbina secara baik serta pembawaan masyarakatnya yang ramah dalam menyambut pendatang dari daerah luar.

“Saya salut dengan masyarakat Sulut soal toleransi beragama, masyarakat Sulut begitu terbuka terhadap warga pendatang serta bersahabat dan ramah terhadap warga pendatang dari daerah lain,” pungkasnya.

Penulis : Robby Kumaat Mononimbar