Benarkah Eta Tuwaidan Menipu ? Ini Kronologisnya Menurut Anto

inewscrime – Pada tahun 2015 silam, mantan calon bupati minahasa Eta Tuwaidan terjepit masalah keuangan. Akhirnya ia mencari rentenir dan di dapatnya bapak Henry Tirayoh yang bersedia meminjamkan uang kepadanya.

Pertemuan antara keduanyapun berlangsung di batu nona dan berlanjut kesepakatan mereka di jakarta. Dimana maksud Eta Tuwaidan yang ingin meminjam uang sebsar Rp.700 juta rupiah akhirnya di setujui oleh rentenir Henry Tirayoh dengan sejumlah perjanjian yang di sepakati bersama.

Adapun kesepakatan mereka adalah Henry Tirayoh bersedia meminjamkan uang sebesar permintaan Eta Tuwaidan sebesar Rp.700.000 ( tujuh ratus juta rupiah ) dengan kesepakatan bunga 3% selanjutnya kesepakatan antara kedua belah pihak di buatkan di depan notaris di jakarta. Pada kesempatan itu juga Sang Rentenir yang berbaik hati untuk meonolong Eta Tuwaidan meminta agar jaminan rumah yang ada di Desa Treman kec, kauditan kab, minahasa utara dan rumah yang ada di bogor provinsi jawa barat tersebut di buatkan akte jual beli di depan notaris. Merasa sudah sangat membutuhkan uang Eta Tuwaidan mengiayakan persyaratan yang di lontarkan Sang rentenir yang baik hati Henry Tirayoh tersebut.

Usai menandatangani sejumlah persyaratan yang di minta oleh Sang Rentenir yang baik hati tersebut, Eta Tuwaidan merasa kegirangan karena menerima uang pinjaman dari sang rentenir sebesar Rp. 700.000,000 ( Tujuh ratus juta rupiah ) dengan masa penggantian yang di sepakati selama 5 bulan dengan bunga 3 %.

Setelah datang waktunya sebagaimana waktu yang di tentukan berdasarkan surat kesepakatan bersama dari kedua belah pihak itu tiba, Peminjam dalam hal ini Eta Tuwaidan belum bisa membayarkan pinjaman tersebut. Sang Rentenir terus mendesak Eta, karena sudah melebihi waktu yang di sepakati.

Merasa tidak puas dan bercampur jengkel akhirnya sang Rentenir yang baik hati itu menggugat Eta di pengadilan negeri Airmadidi juga membuat laporan dugaan penipuan dan penggelapan di kantor Polda sulut.

Mendengar Sang Rentenir yang baik hati itu telah mengambil langkah dan upaya agar uangnya bisa kembali Eta Tuwaidan menghubungi sang rentenir dan menyampaikan permohonan maaf belum bisa melunasi pinjamanya secara keseluruhan namun ia bisanya membayar sebagian bunganya yakni 200 juta rupiah.

Itikad baik dari Eta Tuwaidan benar benar ia tunjukan dengan maksud memberikan tambahan waktu lagi kepadanaya sambil ia berusaha menjual akan asetnya di batu nona minahasa utara.

Tetapi apa yang terjadi ? pada tanggal 27 maret 2017 Eta di hubungi oleh sang rentenir yang baik hati itu untuk meminta ketemu di salah satu hotel ternama di bilangan ranotana manado, Eta pun mengiayakan ajakan sang Rentenir tersebut. Dengan di dampingi Adiknya dan juga Salah satu anggota DPRD Mianahasa utara berinisial D. setibanya di hotel yang dimaksud Eta menghubungi kembali sang rentenir melalui telepone celularnya namun kata sang rentenir “ saya sudah lama menunggu kalian jadi saya sudah kembali “ ungkap anto mengikuti kata sang rentenir yang di hubungi Eta melalui sambungan telepon. Baru usai menutup telepone dan hendak pergi dari kawasan hotel tersebut tiba tiba pihak kepolsian dari polda sulut yang saat itu di pimpin oleh AKBP Yandri Makaminan bersama AKP Sinaga langsung mengahmpiri mobil saya dan menunjukan surat perintah penangkapan dan menyampaikan kepada saya bahwa “ ini surat penangkapan saudari Eta Tuwaidan “ saya pun kaget dan bertanya “ eh masalaha apa ini pak kok main tangkap “ tanya anto kepada sinaga, sinaga menjawab nanti aja di kantor polisi ( polda sulut ) Eta pun langsung di gelandang ke mapolda sulut dan saat itu juga langsung di lakukan penahanan oleh polisi. “ terang anto “

Atas penahanan itu kami sangat bingung dan tak menyangka , ini kan kasus pinjam meminjam uang dengan di sertai jaminan kok kakak saya di tangkap dan di tahan dengan tuduhan melakukan penipuan dan penggelapan sebagaimana yang di laporkan oleh sang rentenir baik hati tadi.

“ untuk di ketahui bahwa menurut saya ini ada sesuatu sebab kami meras ada kejanggalan dalam proses penyidikan yang di lakukan oleh penyidik kepolisian polda sulut bagaimana bisa kasus ini bisa menjadi ranah pidana sedangkan kami keluarga pernah mengumpulkan uang untuk berusaha mengganti pinjaman kakak saya. Yang saya tahu dan saya ingat waktu itu kami pernah memohon untuk memberikan perpanjangan waktu dan kami pernah membayar uang bunga pinjaman sebesar 200 juta kepada sang rentenir yang di transfer melaui rekening istrinya an. VIVIAN DOMPUDUS kok malah kakak saya langsung di tangkap dan di tahan polisi?  Tukas anto dengan wjah bingung. “

Atas tindakan yang di lakukan oleh pihak kepolisian dalam hal ini penyidik jatanras polda sulut yang di pimpin langsung oleh kasubditnya AKBP Yandri Makaminan kami merasa keberatan dan kami mencurigai jangan jangan pihak pelapor sudah bermain dengan pihak penyidik agar kaka saya di tangkap dan di tahan dulu baru kemudian di press untuk segera mengganti uang pinjaman tersebut. Jujur kami menduga adanya kong kalingkong pelapor dengan pihak penyidik akan kasus ini. Untuk itu saya selaku adik kandung dari Eta Tuwaidan tidak akan tinggal diam saya akan melaporkan permasalahan ini ke wasidik mabes polri dan juga akan membuat pengaduan ke bidang profesi dan pengamana mabes polri guna mendudukan permasalahan ini pada koledornya sebenarnya. Pungkas Anto

Kami juga memohon kepada kapolda sulut irjen pol Bambang Warsito dapat memerintahkan direskrimum  untuk melakukan gelar perkara kasus ini secara terbuka dan transparan sebab patut di duga pada saat gelar perkara penetapan tersangka ada beberapa bukti yang tidak di angkat oleh penyidik salah satunya adalah bukti pernah membayar bunga pinjamana kepada sang rentenir yang baik hati sebesar 200 juta yang di tranfer ke rekening istrinya. Tegas anto

Saya berharap pak kapolda dapat membantu kami pihak keluarga untuk dapat mendudukan masalah ini ke ranah yang sebenarnya agar masyarakat bisa di didik dengan pola penangana hukum yang profesioal sebab kami menduga kakak kami ini di kriminalisasi oleh oknum oknum tertentu dengan menggunakan kewenangannya sebagai penyidik. Tutupnya  ( EPO )