Akhir Pelarian Maria Pauline Lumowa Setelah 17 Tahun Buron

Foto (ist, Linetoday) : Maria Pauline Lumowa Saat Diekstradisi Dari Serbia Ke Indinesia)

INEWSCRIME.COM —Sekian lama menjadi pelarian dan buronan, pelaku kasus pembobolan Bank BNI sebesar Rp 1,7 Triliun, Maria Pauline Lumowa, akhirnya tertangkap juga.

Maria ditangkap di Serbia dan dipulangkan ke Indonesia hari ini (09/07/2020).

Direktur Komunikasi Indicator Rustika Herlambang sebelumnya merupakan jurnalis Media Indonesia yang sempat mewawancarai Lumowa menceritakan kisahnya saat masih menjadi buronan.

Pertemuan dilakukan di Singapura, dengan suasana yang santai dan seolah tidak ada apa-apa.

Padahal di Indonesia, perempuan kelahiran Paleloan, Sulut, 27 Juli 1958 itu merupakan salah satu buronan yang sangat dicari saat itu.

Menceritakan persepsi dari Lumowa bahwa dirinya kaget ketika sekretarisnya memberitahu bahwa rekeningnya diblokir karena diblacklist sebagai salah satu pembobol rekening Bank BNI.

Pada saat lakukan wawancara, Lumowa mengatakan merasa dijebak dan sempat memberikan beberapa nama, serta alasan kenapa dirinya bisa dijebak.

Pada saat itu ia mengatakan sudah ingin mengklarifikasi semuanya karena baginya sangat berat. Persepsinya, sebagai orang yang religius namun mendapatkan suatu cap pembobol bank dan buron.

Sebetulnya Lumowa sudah ingin menceritakan semuanya secara jelas, tetapi ia merasa bahwa seperti “dijebak”.

Lumowa juga mengatakan sebenarnya ia memiliki niat baik, dirinya bersedia diperiksa. Namun ia mau diperiksa di Singapura dengan bantuan pengacara.

Akan tetapi niat tersebut ditolak. Ia merasa sudah tidak ada harapan dan ingin kembali ke Belanda.

DITANGKAP DI SERBIA

Pariaen buronan pembobolan Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa, selama 17 tahun akhirnya berakhir. Maria diekstradisi dari Serbia pada Rabu (8/7) waktu setempat.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memimpin langsung ekstradisi tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Serbia sejak Sabtu (04/07/2020).

“Dengan gembira saya menyampaikan bahwa kami telah secara resmi menyelesaikan proses handing over atau penyerahan buronan atas nama Maria Pauline Lumowa dari pemerintah Serbia,” kata Yasonna dalam keterangannya.

Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 itu merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.

Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun (sesuai kurs saat itu) kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari ‘orang dalam’ karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003 lalu, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003, sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Pada 2009 keberadaanya mulai diketahui. Dia sempat berada di Belanda dan sering bolak-balik ke Singapura. Pemerintah Indonesia sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014.

Namun, kedua permintaan itu ditolak oleh Pemerintah Kerajaan Belanda. Kerjaan Belanja bahkan memberikan opsi agar Maria disidangkan di Belanda karena Maria ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979.

Upaya penegakan hukum lantas memasuki babak baru saat Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019.

“Penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang diterbitkan pada 22 Desember 2003. Pemerintah bereaksi cepat dengan menerbitkan surat permintaan penahanan sementara yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan ekstradisi melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham,” kata Yasonna dalam keterangan resminya.

Yasonna mengatakan, pemerintah Indonesia lalu bergerak cepat dengan meminta percepatan proses ekstradisi terhadap Maria. Pemerintah Serbia mendukung permintaan Indonesia.

“Dengan selesainya proses ekstradisi ini, berarti berakhir pula perjalanan panjang 17 tahun upaya pengejaran terhadap buronan bernama Maria Pauline Lumowa. Ekstradisi ini sekaligus menunjukkan komitmen kehadiran negara dalam upaya penegakan hukum terhadap siapa pun yang melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia,” tandas Yasonna.

(***)