10 Pamen dan Bintara Diperiksa karena Diduga Jadi Calo Penerimaan polisi

Jakarta, Inewscrime – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Rikwanto mencoba membeberkan modus dugaan penyelewengan jabatan Enam perwira menengah (pamen) dan empat bintara Polda Sumsel dalam proses perekrutan anggota Polisi di Polda Sumsel pada 2015 silam.

Menurut Rikwanto, salah satu cara yang digunakan oleh oknum tersebut yakni istilah ‘nitip’ oleh orangtua peserta kepada panitia seleksi agar proses pencalonannya mudah dan dapat diterima sebagai Polisi.

“Ada yang konvensional itu nitip. Anak saya, cucu saya, saya titip kalau bisa bantu agar lulus,” ujar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Minggu (4/2/2017).

Dijelaskannya, pemberian ‘uang pelicin’ oleh orangtua kepada panitia seleksi lantaran mereka takut anaknya tidak lolos tes. Karena mereka tidak mengetahui nilai yang didapat anaknya.

Kesempatan itu lantas dimanfaatkan oleh sejumlah oknum tersebut untuk mencari ‘dana tambahan pribadi’ dengan meminta sejumlah uang kepada orangtua dan menjanjikan akan meloloskan anaknya. Padahal, lanjut Rikwanto, oknum tersebut sebenarnya tidak bisa menjamin anak tersebut lolos karena proses penilaian dilakukan secara ketat oleh Kepolisian.

“Padahal dia ga kerja apa-apa. Kalau lulus alhamdulillah jadi miliknya (uang). Kalau tidak lulus ada yang dikembalikan ada yang tidak. Nah itu modus-modus seperti itu yang kami dalami,” ucap Rikwanto.

Seperti diketahui, ada Enam perwira menangah (pamen) dan empat Bintara Polda Sumsel yang diperiksa Propam Mabes Polri atas dugaan penyelewengan proses perekrutan polisi di Polda Sumsel pada 2015 silam. Saat ini menurut Rikwanto, sedang dilakukan pendalaman terhadap 10 oknum tersebut guna mencari keterlibatan anggota yang lainnya.

“Ini sedang dalam pemeriksaan. Namun mereka sudah dibebastugaskan untuk memudahkan pemeriksaan,” tutup Rikwanto.

(yendhi/sir/poskota)