Yusra Alhabsyi Ketua GP Ansor, Anggota DPRD Sulut. (Foto: Istimewa)

SULUT, INC — Pernyataan menarik dikemukakan¬† Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Utara (Sulut) terkait gerakan radikalisme yang terindikasi benihnya ada di bumi nyiur melambai.

Hal tersebut disampaikan Yusran dalam sambutannya saat pelantikan Ketua GP Ansor Sulut di Hotel Arya Duta (Manado 4/4-2021)

“Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Banser NU didapati ada sekolah yang tidak melaksanakan upacara bendera.

“Jangan sampai mereka tidak menggunakan labang negara atau foto presiden juga,” kata Yusra, Selasa (6/4).

Menurutnya, informasi ini penting untuk diseriusi.

“Jangan-jangan mereka tidak menggunakan lambang negara. Informasi ini sangat penting saya sampaikan kepada pemerintah atas dasar informasi dari sahabat-sahabat Ansor. Karena itu pemerintah harus lebih serius lagi untuk melakukan pembinaan kepada lembaga pendidikan yang ada di Sulut,” jelasnya.

“Jangan sampai disusupi oleh ajaran-ajaran yang tidak mencintai lagi bangsa ini. Kira-kira ini disampaikan sebagai usaha kita untuk menjaga generasi muda kita dan masyarakat dari paham-paham radikalisme, demi keutuhan bangsa dan negara kita,”

“Jadi Ansor dan Banser selalu melakukan proses edukasi kepada mereka, bahwa apa yang menjadi persoalan dan kami berharap betul jangan sampai menjadi benih-benih gerakan radikalisme di Indonesia dan terlebih khusus di Sulut,” tegas Yusra.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah.

“Jangan sampai kita menganggap bahwa di Sulut tidak ada, tetapi benih-benihnya ada. Ini kita harus berantas secara bersama-sama,” ungkapnya.

Pada awak media Alhabsyi membeberkan bahwa Ansor telah melakukan pendekatan edukatif untuk melihat persoalan ini.

“Saya pikir lakukan pendekatan edukatif kepada mereka dan jangan dulu dengan pendekatan lainnya. Ansor sudah mulai melakukan itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Yusra mengatakan, persoalan ini sudah disampaikan kepada dinas terkait, bahkan Kementerian Agama.

“Mereka yang lebih berwenang dalam hal ini. Tinggal sejauh ini bagaimana progresnya, belum dapat informasi. Karena sekolah kan juga masih libur, untuk fakta-fakta yang diungkap hari ini pasti belum akurat karena masih libur,” katanya.

Menurutnya, untuk sekolah-sekolah yang didapati tidak memasang foto kepala negara, masih bagian internal Ansor dan belum bisa diungkap berada di kabupaten atau kota mana, supaya tidak menjadi bola liar di masyarakat.

“Karena ini masih data internal, takut salah ditafsirkan dan mungkin ada yang protes. Rasanya ini masih sebatas menjadi konsumsi antara pihak Ansor, Kesra dan Kementrian Agama, agar ini tidak menjadi bola liar. Karena kemudian ini diungkapkan dengan fakta-fakta belum terlalu kuat, akan menjadi bumerang dan opini liar di tengah masyarakat. Tapi yang pasti itu ada,” tandas Politisi PKB di DPRD Sulut ini.

(Robby)