Anggota DPD RI Marhani Pua Gelar Diskusi Akhir Tahun Bersama Dengan Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) & Forum Wartawan DPRD Sulut (Forward)

MANADO, INEWSCRIME.COM – Tak bisa dipungkiri Pariwisata adalah jualan yang paling bisa menghasilkan devisa yang besar buat suatu negara.

Katakanlah Italia terkenal karena pariwisata Kota Venice, menara miring di Pisa ataupun coliseum di Kota Roma. Prancis terkenal karena Menara Eiffelnya dan tentunya negara Indonesia kita mendunia karena situs situs budaya leluhur yang akhirnya jadi ikon pariwisata sebut saja Candi Borobudur di Jogja, Pariwisata di pulau Dewata, dan indahnya terumbu karang di Bunaken.

Hal hal di atas pula yang mendorong pemerintahan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu program unggulan. di. Sulawesi Utara.

Merasa terpanggil dengan kondisi per pariwisataan di Sulut. Senator DPD RI utusan Sulut Marhanny Pua bersama Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) di Sulut (Kagama) dan Komunitas Wartawan Pos Liputan DPRD Sulut (Forward) menggelar diskusi persoalan sosial dan pemerintahan serta pariwisata Sulut, Kamis (28/12/2017).

Menurut Marhani Pua, program wisata di Sulut perlu dilakukan beberapa perbaikan untuk pemberdayaan yang lebih maju, dimana menurutnya program wisata di Sulut perlu dilakukan beberapa perbaikan untuk pemberdayaan yang lebih maju. Dan untuk mewujudkan itu dirinya terus memperjuangkan berbagai aspirasi khususnya di sektor pembangunan dan pengembangan pariwisata yang ada di Sulawesi Utara.

“Ada beberapa aspirasi terkait pengembangan pariwisata di Sulut, yang kami push ke Pemerintah pusat maupun ke DPR RI, untuk bisa mendapat dukungan anggaran. Apalagi Gubernur dan Wagub kita saat ini, terus menggenjot dan memprioritaskan pembangunan di sektor pariwisata,” ujar Marhany Pua. Dirinya juga setuju jika pemerintah tudak hanya fokus pada daerah daerah tertentu untuk Pengembangan pariwisata lantas daerah lain terkesan dilupakan seperti yang di singgung  oleh Sisco Manossoh dari Nusa utara.

“Nusa utara memiliki pariwisata laut yang unik dan eksotis yang sanagt di sukai para turis tapi sayang kurang dibpromosikan, pemerintah memang harus gencar mempromosikan dan menyiapkan infra struktur pariwisata di sana,”ujar mantan Ketua Pemuda Sinode GMIM ini.

Pun demikian dengan Taufik Tumbelaka pengamat politik alumni UGM di Sulut (Kagama) menegaskan selalu mendukung berbagai upaya pemerintah dalam mengembangkan pariwisata di Sulut, meski dirinya kurang setuju adanya penerapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

“Saya sebenarnya kurang setuju jika ada penerapan Kawasan khusus pariwisata, mengingat setiap Kabupaten/Kota yang ada di Sulut berpotensi untuk dikembangkan sektor pariwisatanya,” tegasnya.

Lanjut dikatakannya, disisi lain juga dengan adanya penerapan Kawasan khusus pariwisata maka investor yang akan berinvestasi di sektor pariwisata hanya akan terpusat di satu daerah saja.

“Investor yang ingin berinvestasi, akan lebih memilih untuk menanamkan modalnya di kawasan yang telah ditetapkan tersebut, tidak akan ke daerah lain,” tukas Putra dari Gubernur pertama Sulut, F.J Tumbelaka.

Ditegaskannya, Pariwisata yang ada di Sulut tak memiliki arah karena sampai saat ini belum bisa di rasakan oleh masyarakat kecil atau Wong Cilik.

Tumbelaka memberikan contoh kota Jogja menurutnya ada perbedaan yang signifikan dengan Provinsi Sulut dalam mengelolah sektor pariwisata.

“Di Jogja para wisatawan yang ada di Hotel datang berbelanja pada pedagang kecil, dengan harga yang relatif murah, jadi ada sinergitas antara pemodal dengan masyarakat,” terangnya.

Terlebih menurut Tumbelaka, Turis yanga datang di Sulut capai 100.000 tapi tak menyetuh kalangan bawah sedangkan di Kota Jogja ada kawasan kampung Sosrowijaya/Malioboro yang kunjungan wisatawan capai 1.000.000 pertahun dan sangat bermanfaat bagi masyarakat kecil.

“Apa lagi soal ornamen budaya. Kalau disana (Jogja) orang sudah tahu ini Jogja karena ada identitasnya, tapi di Sulut tak ada ornamen yang menyatakan ini Sulut. Orang berani bayar mahal hanya untuk melihat nilai-nilai budaya dan adat,” terang Tumbelaka.

Di bagian. akhir diskusi Marhani berkelakar mengatakan bahwa dirinya sengaja mengundang Taufik Tumbelaka kedepan sebagai slah satu nara sumber. Karena. sebagai Senator dirinya khawatir jika menjadi peserta diskusi, Tumbelaka malah akan menyulitkan dirinya dengan pertanyaan.

“Sengaja saya undang abang Taufik Tumbelaka sebagai Narsum karena saya takut di buat sulit dengan pertanyaan beliau jika beliau menjadi peserta diskusi, “tukas Marhani disambut dengan tawa dari para peserta diskusi.