Kadis Pertanian Katakan NTP Besar Pasak dari Tiang, Teddy Kumaat Nilai Kadis Tak Lakukan Survei

INewscrime.com — Terkait pernyataan dari Kadis Pertanian dan Peternakan Sulut Novly Wowiling yang menyebut bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) masih menggambarkan besar pasak daripada tiang, dimana data Badan Pusat Statistik pada Januari 2019 NTP Sulut sebesar 95.41 persen, naik 0.02 persen, dinilai personil Komisi II DPRD Sulut Teddy AH Kumaat pernyataan tersebut belum didasari oleh hasil survei.

Menurut Kumaat, jangan sampai Kadis menjadi hakim tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu.

“Apakah pernyataan ini sudah didasari oleh peneletian?Jangan sampai menjadi hakim tanpa melakukan penelitian. Buat penelitian dong.” tegas Kumaat saat diwawancarai oleh sejumlah wartawan, Rabu (20/02/19) kemarin.

Secara teknis Kumaat menjelaskan bahwa, jika NTP di atas 100 berarti petani untung, akan tetapi jika NTP dibawah 100 berarti petani mengalami kerugian.

“NTP sulut mulai berada dibawah 100 mulai tahun 2014, tahun 2014 ke bawah yang diatas 100 apakah tidak boros ini petani? Apakah nanti 2014 keatas baru boros? Padahal stigma bahwa orang manado ini boros sudah ada sejak saya lahir,” paparnya.

Lanjut politisi PDI Perjuangan ini, dalam mengukur tingkat kesejahteraan petani ada dua variabel yang harus kita lihat, pertama NTP dan kedua NTUP (Nilai Tukar Usaha Petani).

“NTUP merupakan laporan rugi laba petani, sebab hitungannya NTUP sama dengan penjualan dipotong dengan biaya yang berhubungan dengan biaya pertanian, seperti membeli bibit, pupuk, semprot hama, dan biaya produksi, didapatlah NTUP. Jika berdasarkan NTP tahun 2019 yang ada dikisaran 95,41 per Januari 2019, sedangkan NTUP nya berada pada angka 108, artinya jika dari pertanian saja belum dipotong biaya biaya RT dan lain lain, petani masih ada untung, tapi hanya untung 8 persen daripada total biaya produksi. Wajar tidak itu,? Ini kan berarti tidak wajar. Berarti jika NTUP hanya 108 ini berarti membantah statement dari kadis bahwa dibilang royal. Beda halnya jika NTUPnya 120 terus NTPnya masih dibawah 100 bearti itu boros,” jelasnya secara rinci.

Kumaat meminta agar dinas pertanian melakukan treatment khusus kepada petani petani yang ada di Sulut agar tingkat kesejahteraan lebih baik. Seperti memperbanyak bantuan baik bibit maupun pupuk, membuka akses perdagangan dan distribusi hasil pertanian, mencari produk produk olahan lain hasil pertanian seperti kelapa yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Sementara itu terkait dengan belum membaiknya NTP ini, Komisi II lewat Wakil Ketua Komisi Noldy Lamallo ssat diwawancarai diruang kerjanya Selasa,12/30-2019 mengatakan, dalam waktu dekat ini akan memanggil dinas pertanian dan SKPD terkait lainnyauntuk mengklarifikasi hal tersebut.

“Kami akan memanggil sejumlah kepala SKPD dan Assisten ll untuk menanyakan apa terobosan yang akan di lakukan ketika nilai tukar petani ini dibawah 100,” tegas Lamalo.

(RobbyKumaat)