Deprov Sorot Peringkat Kelulusan SMA SMK Sulut 

Foto: Meiva Lintang STh

Manado, INewscrime.com- Problem kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diendus. Sulawesi Utara (Sulut) berada pada peringkat yang dinilai memprihatinkan. Gerak gubernur pun didorong. Desakan mengevaluasi kinerja pimpinan instansi mengencang.

Selaku personil Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Meiva Lintang meminta Gubernur Olly Dondokambey untuk memperhatikan kinerja Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Kerja mereka diharap mampu berimbang dengan gerak gubernur dalam melaksanakan tugas. “Karena saya tau sekali, beliau (Olly, red) selaku kepala daerah, hampir tidak punya waktu untuk tidur, karena mencari dana pembangunan di Sulut. Ini harus diimbangi kinerja SKPD. Beliau tidur jam 1 malam, Kepala SKPD jam 8 malam sudah tidur. Gubernur bangun jam 4, mereka jam 7 atau 8,” ungkap anggota dewan provinsi (deprov) dari Nusa Utara ini.
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan pemerintah baginya adalah pendidikan. Dalam 5 program nasional, pendidikan termasuk nomor urut pertama prioritas, kemudian diikuti sektor infrastruktur dan lainnya. “Yang memprihatinkan di Sulut masalah pendidikan. Coba perhatikan terkait kelulusan SMA SMK. Sulut peringkat kelulusan SMA urutan ke 32 dan untuk SMK ke 31, itu dari 34 provinsi,” jelasnya.

Masalah ini baginya, berhubungan dengan teknis yang bukan datang dari gubernur melainkan instansi terkait. Menurutnya, kalau pendidikan Sulut terus seperti ini, dikelola oleh kepala instansi yang tidak berkompeten maka akan terpuruk. “Saya sangat prihatin dengan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Kita lihat di Solo ada yang lulus prima dengan nilai 100,” bebernya.

Sulut menurutnya adalah lumbung masalah pendidikan di Indonesia Timur. Begitu pula sejak zaman dahulu, pendidikan Sulut selalu mendapat perhatian. “Karena saya juga latar belakang guru, hal-hal ini perlu dibijaksanai oleh pemrintah. Kami turun di SMA SMK terlalu banyak keluhan. Jangan-jangan ini akibat dari keluhan-keluhan itu. Karena kita bagai disambar petir pendidikan kita di Sulut,” tutupnya. (***)